Minggu, 19 Februari 2012

Pantai Menganti, Kebumen


Sebuah pantai eksotis di pesisir selatan Jawa, Pantai Menganti, menjadi destinasi trip pertamaku di tahun 2012. Menganti adalah nama baru, Mbah Kung, kakekku yang sudah berumur 90 tahun lebih dan ikut dalam rombongan tidak mengenal nama ini, ketika aku disuruh menyebut nama daerah tempat pantai ini berada, yakni Karang Dhuwur, mbahku baru 'ngeh' dimana keberadaan tempat ini.

Konon ketika masih aktif di ketentaraan, tempat ini jadi tempat pertahanan pasukan melawan Belanda, termasuk mbahku yang ikut serta didalam pasukan itu. Dari Jetis, merangsek ke Karangdhuwur, begitu katanya.


Pulau batu keciiiil... biar kecil tapi penentu ZEE loh

Pantai ini aslinya cuma tempat pelelangan ikan (TPI), tapi karena waktu itu Hilmy kawan baikku diajak Iftien kawan baiknya dan kawan baikku juga dari Kebumen ke pantai ini. Terus foto-fotonya diupload, terus keindahannya berhasil diendus oleh fotografer-fotografer. Terus dijepret oleh para fotografer.



Terus jepretan fotografer menyebar kemana-mana, sehingga diselenggarakan festival selancar disana dan akhirnya sekarang warga sekitar mulai sadar bahwa pantai mereka bagus, maka dikembangkanlah itu TPI jadi obyek wisata komersial alakadarnya sekarang.


Mercusuar di atas Bukit
 
Untuk menjangkaunya, kita prefer memakai kendaraan sendiri, entah mobil atau sepeda motor. Fyi : Ini pantai di ujung pegunungan, jadi jalan menuju pantai ini curam sekali, begitu juga jalan pulangnya kebalikannya, menanjak sekali. Kalau membawa mobil, pastikan drivernya profesional dan muatannya normal, karena jalannya sempit, tidak bisa untuk papasan dan sebelah kanannya itu jurang.

Dari Jalan Raya Purwokerto-Jogja, ambil simpangan ke kiri setelah perbatasan Banyumas-Kebumen, atau tepatnya di daerah Ngijo. Di pertigaan ini ada papan penunjuk besar Pantai Ayah, Gua Jatijajar & Gua Petruk. Ikuti jalan itu terus sampai ke gerbang masuk pantai Ayah. Di gerbang itu ada petugas tiket, tapi klakson saja dan enggak usah bayar, bilang 'hanya lewat'. Ya, karena kita kan enggak mau ke Pantai Ayah, hanya lewat saja. Kalau pantai ayah ada di sisi kanan, maka karena kita hanya lewat maka terus ambil kiri, ikuti jalan aspal halus bagus tapi menanjak dan berkelak-kelok. Sampai kurang lebih 5 km, ada keramaian kecil seperti pusat pedukuhan berbentuk simpang tiga, disitu sudah ada tulisannya Pantai Menganti, Karang Dhuwur.

Di Pertigaan itu ambil kanan, ikuti jalan sampai kurang lebih 3 km, akan ketemu pos kecil penjagaan pantai menganti. Tinggal lanjutkan perjalanan sekitar 1 km, kita bisa menyaksikan view laut dari atas bukit dan eksotisnya Menganti. Berasa bukan pantai di Jawa...


Sementara Mbah Kung & Ibuku nonton pantai dari tempat tidak jauh mobil diparkir, keponakan-keponakanku Fadlan, Ais & Sidiq mencebur ditemani Mba Ui, Mba Us, Bude Tuty & Mas Yudi sepupuku. Aku dan Yiyi enggak betah berlama-lama, jadi harus move. maka, jadilah kita jalan-jalan berdua memisahkan diri dari mereka.

Kalau dulu pertama (dan sekali-kalinya) aku ke Menganti bareng Iswa, Fikry, Hilmy & (almh) Fika memilih menjelajah ke arah kiri, ke perbukitan yang ada mercusuarnya, dan dibawah bukit itu ada batu karang yang dideburi ombak sekian detik sekali dan kita bisa turun kesana tapi kali ini aku & Yiyi memilih menjalah ke arah sebaliknya, ke sanan dari pantai.

Pasir Putih
Meninggalkan pantai berbatu, terhampar pasir putih dikeliling perahu-perahu nelayan yang sedang parkir. Dari pasir putih tanpa bebatuan itu, kita terus ke kanan, ada tebing alam yang berdiri kokoh, tinggi yang baru-baru ini disepakati warga dinamai Tebing Widodari. Kita terus berjalan mendekati tebing, eh ternyata dibawahnya ada jalan yang bisa dilalui, walau jalan tanah tapi muat kok untuk jalan mobil sekalipun.

Terus berjalan, di sisi kanan ada tebing, sisi kiri ada pantai, eh ditebing ada air terjunnya juga loh. Wah keren.... Terus jalan lagi, eh didepan ada sungai kecil, sungai ini bening sebelum kita injak-injak untuk cuci kaki, unyu sekali sungai ini, karena sepertinya air yang mengalir girang sekali, karena beberapa meter lagi mereka akan tiba di laut. Hm, apa ya nama bagian sungai yang bertemu dengan laut? jadi pelajaran geografi nih buat adikku, hehe...

Ada Tebing di satu sisi pantai, ada beberapa air terjun di tebing itu
Di pinggiran pantai, dekat tebing ada lapangan voli. Kalo kota punya taman kota, maka desa punya lebih dari itu, nggak tanggung-tanggung : pantai. Itulah betapa kaya nya orang desa. Warga disinipun kelihatannya ingin memanfaatkan pantai ini dengan optimal, walau belum optimal. Makanya dibangun lapangan voli untuk refreshing setelah mencari ikan *mungkin*.

Pada saat aku kesanapun, aku berjumpa dengan rombongan ibu-ibu yang sedang kerja bakti mengambil batu pantai untuk dibawa ke tempat tinggal mereka, ketika aku tanya ini batu-batu untuk apa, kata mereka mau dipakai untuk membuat jalan. Hedew.. masyarakat Indonesia memang masyarakat mandiri, enggak perlu demo minta dana dari pemerintah, cukup ajak tetangga kiri-kanan angkut batu dari pantai, gratis, jadi deh jalan.

Lapangan Volli di bawah tebing

Aliran sungai kecil menuju ke laut apa namanya hayo?... bagus untuk pelajaran Geografi anak SD

Prasasti peresmian lokasi wisata ditanda tangani Pak Lurah


Papan penunjuk arah wahana-wahana

Banyak nelayan di sini
Berangkat dari Banyumas jam sekitar jam 06.00, sampai Menganti sekitar setengah delapan, sebelum pulang lagi ke Banyumas, kita mampir dulu di Pantai Ayah sebentar karena tadi Mbah Kung belum turun, belum ketemu air karena memang medannya yang menurun ke pantai & menanjak ke parkiran tidak memungkinkan untuk Mbah Kung ikutan nyebur.

Di Pantai Ayah sambil menunggui mbah turun ke air aku menyantap pecel aseli bikinan orang Kebumen. Dan perjalananpun berakhir, jam 13.00 sudah di Banyumas lagi. Itulah Indonesia, ke pantai cukup keluar bensin & berapa ribu rupiah saja, waktu tempuhnyapun enggak ada setengah hari sudah PP. Coba kalau di Cina Dararatan atau tengah-tengah Afrika, pantai = mimpi kali yee... hehe piiiis...

Jalan pulang dari Menganti, hati-hati saat menanjak,  perhatikan persneling, perhatikan arus kendaraan dari atas

4 komentar:

  1. keren tulisannya...salam

    BalasHapus
  2. bikin pengen nyoba ke menganti hahahaa

    BalasHapus
  3. salam
    mau infonya dong, kalo ke menganti, disana ada homestay nya gak?
    terus transportasi buat ke sana nya, ada kendaraan umumnya ? atau harus bawa kendaraan sendiri :)
    terimakasih

    BalasHapus